Dari Mangrove Mempawah, PT Askrindo Dorong Ekowisata Berbasis Masyarakat yang Berkelanjutan
![]() |
| Aktivitas penanaman mangrove program Ekowisata Mangrove Desa Sengkubang yang didukung PT Askrindo melalui program TJSL. Foto Istinewa |
JURNAL GALAHERANG - “Dulu garis pantai masih jauh, sekarang sudah banyak yang hilang, kurang lebih sampai 200 meter.”
Kenangan itu masih membekas di ingatan Efendi, warga Desa Sengkubang, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, yang menyaksikan langsung perubahan pesisir akibat abrasi.
Bagi masyarakat Desa Sengkubang, abrasi bukan sekadar isu lingkungan. Daratan yang dulunya dimanfaatkan perlahan berubah menjadi laut, aktivitas warga terganggu saat air pasang (rob), dan sumber penghidupan dari kawasan pesisir ikut menurun. Berkurangnya vegetasi mangrove membuat wilayah ini semakin rentan terhadap gelombang dan angin kencang.
Di tengah kondisi tersebut, upaya pemulihan mulai dilakukan melalui Program Ekowisata Mangrove Desa Sengkubang yang diinisiasi oleh PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Program ini mengusung pendekatan terpadu yang menggabungkan konservasi lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat sebagai pelaku utama.
Secara bertahap, perubahan mulai terlihat. Mangrove yang ditanam tumbuh dan kembali berfungsi sebagai pelindung alami pesisir. Kehadiran biota seperti kepiting yang mulai kembali muncul menjadi indikator pemulihan ekosistem yang sebelumnya terganggu.
Upaya ini juga diperkuat dengan capaian program yang terukur. Askrindo bersama masyarakat telah melakukan pembibitan sebanyak 2.000 bibit mangrove, terdiri dari jenis api-api, bakau, dan nyirih. Selain itu, dilakukan pula penanaman dan penyulaman sebanyak 500 bibit mangrove di kawasan konservasi Desa Sengkubang.
Momentum Hari Bumi 2026 turut dimanfaatkan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) PELESIR bersama masyarakat untuk melakukan aksi penanaman mangrove sebagai bentuk komitmen menjaga keberlanjutan pesisir.
Tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, program ini juga mendorong peningkatan kapasitas masyarakat. Berbagai pelatihan telah dilaksanakan, mulai dari penguatan mindset ekowisata, manajemen kelembagaan, hingga digital marketing guna mendukung promosi wisata dan produk lokal.
Sebagai penunjang, Askrindo juga membangun infrastruktur dasar di kawasan tersebut, seperti pathway akses menuju area mangrove, dua unit toilet umum, serta fasilitas tapak dan tampungan air bersih. Kehadiran fasilitas ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan pengunjung, tetapi juga membuka peluang pengembangan kawasan wisata secara lebih optimal.
Nur Aini Departemen Head Corporate Social & Enviromental Responsibility PT Askrindo menyampaikan program ini dirancang sebagai upaya jangka panjang yang berkelanjutan.
“Kami ingin memastikan masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi penggerak utama dalam menjaga dan mengembangkan potensi daerahnya,” ujarnya.
Kini, kawasan mangrove Desa Sengkubang tidak hanya berfungsi sebagai pelindung pesisir, tetapi juga mulai berkembang sebagai destinasi ekowisata berbasis masyarakat.
Aktivitas konservasi yang dilakukan secara konsisten mulai memberikan dampak ekonomi, membuka peluang usaha baru, serta meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Sebagai pengampu program, Askrindo menempatkan Desa Sengkubang sebagai model pengembangan ekowisata mangrove berbasis masyarakat di Kalimantan Barat. Pendekatan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah pesisir lainnya.
Program ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam pelestarian ekosistem pesisir, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta penguatan kemitraan multipihak.
Dari pesisir mangrove di Mempawah, langkah kecil yang dimulai hari ini menjadi harapan besar bagi masa depan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. (Rilis)

Posting Komentar