PANTUNin AI Diperkenalkan di Mempawah, 150 Guru Diajak Lestarikan Sastra Melayu di Era Digital

00:00
00:00
Wabup Mempawah Juli Suryadi menghadiri Workshop Revitalisasi Sastra Melayu dengan PANTUNin AI untuk Gerakan Bijak Digital dan Finansial, yang digelar di Aula 1 SMKN 1 Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah, Kalbar. Foto Istimewa

JURNAL GALAHERANG – Pantun tak hanya menjadi warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah derasnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), sastra Melayu justru mulai mendapat ruang baru untuk berkembang dan lebih dekat dengan generasi digital.

Hal itu terlihat dalam Workshop “Revitalisasi Sastra Melayu dengan PANTUNin AI untuk Gerakan Bijak Digital dan Finansial” yang digelar di Aula 1 SMKN 1 Mempawah Hilir, Senin, 27 Juli 2026.

Kegiatan yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Barat bersama Serumpun Berpantun dan Pagar Budaya Kalimantan Barat tersebut melibatkan sejumlah pihak.

Di antaranya Dinas Pendidikan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Dikporapar) Kabupaten Mempawah, Bank Kalbar Cabang Mempawah, Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Mempawah, serta Grup Kopi Pantun Mempawah.

Workshop diikuti sekitar 150 tenaga pendidik atau guru dari Kabupaten Mempawah dan dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Mempawah Juli Suryadi Burdadi.

Dalam sambutannya, Wabup Juli Suryadi mengaku bangga dapat hadir sekaligus menyapa langsung para guru yang menjadi peserta kegiatan tersebut.

Menurutnya, kegiatan yang memadukan budaya Melayu dengan teknologi digital menjadi sesuatu yang menarik, terlebih guru memiliki posisi penting dalam mengenalkan kembali nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

Sementara itu, Ketua OJK Kalimantan Barat Rochma Hidayati mengingatkan peserta agar semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial, khususnya di tengah maraknya tawaran investasi yang tidak jelas.

Ia juga menyinggung bahaya judi online yang dapat membuat masyarakat mengalami kerugian finansial. Pesannya sederhana: jangan mudah tergiur keuntungan cepat.

Salah satu kebiasaan yang perlu dibangun, kata dia, adalah rajin menabung dan bijak dalam mengelola keuangan.

Yang membuat kegiatan ini berbeda adalah hadirnya PANTUNin AI, sebuah inovasi yang mencoba mempertemukan kekayaan sastra Melayu dengan perkembangan kecerdasan buatan.

Inovasi tersebut dikembangkan dengan melibatkan pemikiran maestro pantun Kalimantan Barat, Agus Muare, yang juga pengurus MABM Kalbar dan dikenal sebagai pemantun, serta penulis buku 1000 Pantun Selasih Kapuas. 

PANTUNin Ai diarahkan untuk membantu pengguna membuat pantun dengan tetap memperhatikan kaidah rima, menyediakan bank pantun khusus, serta mengolah karya sastra menjadi gambar yang lebih menarik dan estetis.

Bagi MABM Kabupaten Mempawah, seperti yang disampaikan Sekretaris MABM Muhardi, kehadiran inovasi tersebut menjadi langkah menarik dalam menjaga keberadaan pantun agar tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu.

"Teknologi justru dapat dimanfaatkan sebagai jembatan agar pantun lebih mudah diterima generasi muda," ujarnya. 

MABM Kabupaten Mempawah juga menyambut baik kegiatan tersebut sekaligus menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada OJK Kalimantan Barat, Serumpun Berpantun Kalimantan Barat yang dipimpin Agus Muare, serta seluruh pemateri dan pihak yang terlibat.

Terlebih, pantun sendiri memiliki posisi penting dalam kebudayaan Melayu. Tradisi pantun secara resmi diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 20 Desember 2020 di Paris, Prancis.

"Karena itu, upaya membawa pantun ke ruang digital, kami nilai menjadi salah satu cara agar warisan sastra lisan tersebut tetap hidup dan berkembang mengikuti zaman," ucapnya. 

Agus Muare sebagai salah satu pemateri utama dalam workshop itu menekankan pentingnya menjaga marwah rima Melayu di tengah perkembangan teknologi.

Teknologi boleh berubah, tetapi karakter dan kaidah pantun Melayu jangan sampai hilang.

Semangat tersebut tergambar dalam pantun yang disampaikan:

Indah lembayung lebat berseri

Janganlah layu kering di taman

Jaga adat payung negeri

Resam Melayu mengiring zaman

Pantun tersebut seolah menjadi pesan utama dari kegiatan tersebut: budaya tidak harus berseberangan dengan teknologi. Keduanya justru dapat berjalan bersama, selama teknologi digunakan untuk merawat, bukan menghilangkan jati diri budaya.

Melalui PANTUNin AI, pantun diharapkan tidak hanya tetap hidup di panggung budaya, tetapi juga hadir di ruang digital yang setiap hari menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.

Pantun tetap berakar pada tradisi, sementara teknologinya melangkah mengikuti zaman.

Penulis : Apri

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • PANTUNin AI Diperkenalkan di Mempawah, 150 Guru Diajak Lestarikan Sastra Melayu di Era Digital
  • PANTUNin AI Diperkenalkan di Mempawah, 150 Guru Diajak Lestarikan Sastra Melayu di Era Digital
  • PANTUNin AI Diperkenalkan di Mempawah, 150 Guru Diajak Lestarikan Sastra Melayu di Era Digital
  • PANTUNin AI Diperkenalkan di Mempawah, 150 Guru Diajak Lestarikan Sastra Melayu di Era Digital
  • PANTUNin AI Diperkenalkan di Mempawah, 150 Guru Diajak Lestarikan Sastra Melayu di Era Digital
  • PANTUNin AI Diperkenalkan di Mempawah, 150 Guru Diajak Lestarikan Sastra Melayu di Era Digital

Posting Komentar