Mempawah Perkuat Penanggulangan Karhutla, Tim Gabungan Siaga 24 Jam
![]() |
| Apel gabungan penanganan karhutla di Kabupaten Mempawah, di Halaman LLKK-UKM Mempawah yang berada di seberang Posko Terpadu Penanganan Karhutla. Foto Diskominfo Mempawah |
JURNAL GALAHERANG - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Mempawah semakin diintensifkan.
Apel gabungan Posko Terpadu Penanganan Karhutla digelar di halaman LLKK UKM, Kamis, 27 Agustus 2026, sebagai langkah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran yang masih muncul di sejumlah wilayah.
Apel tersebut dipimpin langsung Dandim 1201/Mempawah Letkol Czi Ali Isnaini, Kapolres Mempawah AKBP Ade Chandra Capa Yanto, serta perwakilan dari Mabes TNI.
Kegiatan diikuti berbagai unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla, mulai dari TNI/Polri, Manggala Agni, KPH, Brimob Kaltim, Dinas Kesehatan, Diskominfo hingga unsur lainnya.
Usai apel, personel langsung bergerak menuju lokasi titik api di Desa Sekabuk, Kecamatan Sadaniang, untuk melakukan pengecekan sekaligus penanganan di lapangan.
Kepala BPBD Kabupaten Mempawah, Aswin, mengatakan hari pertama operasi ditandai dengan pembagian personel ke dalam tiga regu yang bekerja secara bergantian selama 24 jam.
“Karena ini hari pertama operasi, kita membagi masing-masing komponen menjadi tiga regu. Sistemnya delapan jam, delapan jam dan delapan jam, sehingga posko siap mengantisipasi selama 24 jam,” ujar Aswin.
Menurutnya, kekuatan posko terpadu berasal dari berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, KPH, pemadam swasta, serta personel bantuan kendali operasi (BKO) dari TNI dan Mabes Polri.
Untuk pemantauan titik panas, Aswin menyebut berdasarkan pantauan satelit, terdapat tiga titik yang menjadi perhatian utama pada hari tersebut. Namun, kondisi di lapangan tetap menjadi pertimbangan penting karena titik api baru dapat muncul berdasarkan laporan petugas maupun masyarakat.
“Pantauan satelit hari ini ada tiga titik. Tapi di lapangan bisa saja muncul laporan baru dari Babinsa, Bhabinkamtibmas maupun Kapolsek. Seperti hari ini, saat operasi di Sekabuk, kita juga mendapat informasi ada titik api di Desa Antibar, yaitu Moton Asam yang apinya masih hidup,” katanya.
Aswin menjelaskan, penentuan target operasi tidak hanya mengandalkan pantauan satelit. Tim juga menggunakan sejumlah sumber informasi, termasuk aplikasi pemantauan titik panas Sipongi milik Kemenhut dan Lancang Kuning dari Polri, informasi dari kepolisian, serta laporan masyarakat yang diteruskan melalui jaringan pengendalian di lapangan.
“Dasar kita untuk operasi ada dari aplikasi pemantauan, kemudian laporan dari kepolisian dan laporan masyarakat melalui Babinsa maupun Bhabinkamtibmas,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan di lapangan, BPBD secara institusi juga masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan peralatan, jarak menuju lokasi, serta ketersediaan sumber air.
“Peralatan memang masih kurang, tetapi kita coba dengan komposisi yang ada agar semua tim yang turun bisa terpenuhi. Kendala lainnya adalah jarak tempuh dan titik air,” ungkap Aswin.
Menurutnya, keberadaan sumber air menjadi faktor penting dalam proses pemadaman. Jika titik api berada jauh dari sumber air, proses penanganan akan lebih sulit.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim menyiapkan pola suplai air dari sumber yang tersedia menuju lokasi kebakaran menggunakan tangki.
“Kalau titik apinya tidak ada air, tentu kita kewalahan. Mekanismenya kita suplai air dari sumber yang jauh menggunakan tangki sampai ke titik api,” katanya.
Terkait kemungkinan penggunaan bantuan udara atau water bombing, Aswin mengatakan langkah tersebut akan disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan. Operasi darat tetap menjadi pilihan utama selama kondisi masih dapat dikendalikan.
“Kalau masih bisa ditangani dengan operasi darat, cukup dengan operasi darat. Kecuali nanti tim kita tidak mampu, api membesar dan meluas, baru kita minta bantuan,” ujarnya.
Ia menambahkan, BNPB dan BPBD Provinsi Kalimantan Barat bersama unsur terkait telah menyiapkan enam helikopter yang berstatus siap on call. Namun, saat ini dukungan udara masih diprioritaskan untuk wilayah dengan kondisi kebakaran yang lebih besar.
“Untuk sementara mereka fokus ke titik-titik yang paling besar. Kita belum menjadi prioritas karena kondisi kita masih relatif kecil. Tapi kalau ada perkembangan besar, tentu bisa dikoordinasikan,” jelasnya.
Selain operasi darat dan kesiapan bantuan udara, upaya penanganan juga dapat dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Aswin menyebut pelaksanaan OMC sebelumnya telah dilakukan oleh Satgas Provinsi Kalimantan Barat pada awal Agustus.
“Kalau ada gumpalan awan yang berpotensi hujan, itu bisa dilakukan modifikasi cuaca. Tapi kalau tidak ada potensi awan hujan, tentu sulit,” katanya.
Aswin menyebut pelaksanaan OMC sebelumnya berlangsung pada 1 hingga 8 Agustus 2026 dan telah menyasar sejumlah wilayah di Kalimantan Barat. Namun, Kabupaten Mempawah hingga kini belum menjadi wilayah yang mendapatkan hujan dari kegiatan tersebut.
Di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap karhutla, BPBD Mempawah kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Ia meminta masyarakat tidak membakar sampah sembarangan, membuang puntung rokok sembarangan maupun melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.
“Imbauannya sama, pertama jaga kesehatan dan jangan keluar kalau tidak ada keperluan. Kedua, jangan membakar sembarangan, baik membakar sampah, membuang puntung rokok sembarangan, maupun membuka lahan, ladang atau kebun dengan cara membakar,” tegasnya.
Menurut Aswin, pencegahan karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas di lapangan. Peran masyarakat sangat menentukan agar titik api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
“Untuk sementara, demi Kalimantan Barat, mari kita sama-sama menjaga dan mencegah agar kebakaran tidak meluas,” pungkasnya.
Penulis : Apri

Posting Komentar