Hilirisasi Bukan Sekadar Industri, BAI Hadir Bawa Manfaat Nyata untuk Masyarakat Mempawah
![]() |
| Kawasan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) PT BAI di Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Foto : IG @ptbaiofficial |
JURNAL GALAHERANG - Hilirisasi bukan sekadar tentang membangun pabrik dan mengolah mineral.
Di balik deretan fasilitas industri dan aktivitas produksi, ada cerita tentang lapangan pekerjaan, tumbuhnya usaha masyarakat, meningkatnya keterampilan tenaga kerja lokal hingga hadirnya berbagai program sosial yang perlahan ikut mengubah kehidupan masyarakat di sekitar kawasan industri.
Cerita itu kini terlihat di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, melalui kehadiran PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) yang mengoperasikan fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Kecamatan Sungai Kunyit.
Sebagai bagian dari Grup MIND ID dan perusahaan patungan PT INALUM dan PT ANTAM Tbk, BAI menjadi salah satu bagian penting dalam agenda hilirisasi mineral nasional. Bauksit yang sebelumnya hanya dipandang sebagai komoditas bahan mentah kini diproses menjadi alumina yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Fasilitas SGAR BAI dirancang dengan kapasitas hingga 1 juta ton alumina per tahun. Perusahaan juga menyebut saat ini terdapat lebih dari 800 tenaga profesional yang bekerja di dalam ekosistem perusahaan.
Namun, dampak keberadaan BAI tidak berhenti di dalam pagar kawasan industri. Salah satu dampak paling terasa dari kehadiran proyek hilirisasi adalah terbukanya kesempatan kerja.
Direktur Keuangan dan SDM PT BAI, Preti Agustina Hidayati, menyebut sekitar 86 persen tenaga kerja BAI merupakan putra-putri Kalimantan Barat, dengan mayoritas berasal dari Kabupaten Mempawah dan daerah sekitar operasional perusahaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Preti saat PT BAI mengikuti Naker Fest 2026 di Pontianak. Dalam kegiatan itu, perusahaan juga membuka kesempatan bagi talenta lokal melalui walk in interview dan rekrutmen tenaga kerja.
Angka tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi tidak hanya berbicara mengenai investasi besar dan teknologi industri, tetapi juga bagaimana masyarakat lokal memperoleh kesempatan untuk menjadi bagian dari proyek strategis tersebut.
Kepala Desa Bukit Batu, Harianto, bahkan menggambarkan kehadiran proyek BAI sebagai salah satu perubahan penting bagi perekonomian masyarakat di wilayahnya.
Menurut Harianto, sebelum pembangunan fasilitas hilirisasi bauksit berlangsung, masyarakat menghadapi persoalan pengangguran, termasuk tenaga kerja terdidik. Kehadiran proyek BAI kemudian membuka peluang pekerjaan sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.
Ketika ribuan orang bekerja dan beraktivitas di sekitar sebuah kawasan industri, dampaknya tentu tidak hanya dirasakan oleh pekerja.
Warung makan, jasa transportasi, penyedia kebutuhan harian, usaha kecil, hingga berbagai jasa penunjang ikut mendapatkan peluang.
Inilah yang kemudian disebut sebagai multiplier effectdari proyek hilirisasi. Aktivitas industri menciptakan kebutuhan baru yang dapat diisi pelaku usaha lokal. Dengan demikian, keberadaan BAI turut membentuk ekosistem ekonomi baru di sekitar kawasan operasional.
Pemerintah Kabupaten Mempawah juga mencatat bahwa industri pengolahan menjadi salah satu sektor penting dalam struktur ekonomi daerah.
Dalam dokumen perencanaan daerah, industri pengolahan disebut memberikan kontribusi signifikan terhadap PDRB Mempawah, sementara keberadaan SGAR BAI menjadi salah satu penggerak baru sektor tersebut.
BAI juga menjalankan berbagai program pengembangan masyarakat yang diarahkan untuk meningkatkan kemampuan warga. Salah satunya melalui pelatihan berbasis kompetensi.
Pada 2024, perusahaan bekerja sama dengan UPTD-LLK UKM Kabupaten Mempawah menggelar pelatihan menjahit bagi masyarakat Desa Bukit Batu.
Sebanyak 16 peserta mengikuti pelatihan selama 14 hari dengan materi mulai dari pembuatan pola hingga praktik menjahit. Program tersebut diarahkan agar masyarakat memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha.
Program pelatihan juga menyasar kebutuhan industri. Pada Desember 2024, BAI menggelar pelatihan welder bagi warga lokal bekerja sama dengan UPTD-LLK UKM Kabupaten Mempawah.
Langkah semacam ini menjadi penting karena kebutuhan industri tidak cukup hanya dipenuhi dengan jumlah tenaga kerja. Kualitas dan kompetensi sumber daya manusia lokal juga harus terus ditingkatkan.
Dampak keberadaan perusahaan juga diarahkan pada sektor pendidikan. Pada Agustus 2026, BAI bersama Pemerintah Kabupaten Mempawah memulai pembangunan relokasi SMP Negeri 2 Sungai Kunyit di Desa Bukit Batu.
Direktur Produksi PT BAI Dindin Rajidin, menyebut pembangunan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penyediaan fasilitas pendidikan yang lebih baik.
Tidak hanya pembangunan fisik, BAI juga terlibat dalam penguatan kompetensi digital dunia pendidikan.
Bersama PT Telkom Indonesia, perusahaan mendukung program peningkatan infrastruktur dan literasi teknologi kecerdasan buatan bagi tenaga pendidik di Mempawah. Program tersebut mencakup pelatihan AI sekaligus dukungan perangkat komputer, layanan internet dan aplikasi pembelajaran.
Artinya, investasi perusahaan tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan industri hari ini, tetapi juga mempersiapkan sumber daya manusia yang akan menjadi kekuatan daerah di masa mendatang.
Program sosial BAI juga menyentuh sektor kesehatan.
Pada 2026, perusahaan memperluas program penanganan stunting di Kecamatan Sungai Kunyit. Program tersebut dilaksanakan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Mempawah, BKKBN, Puskesmas Sungai Kunyit, bidan desa dan kader posyandu selama 56 hari.
Program tersebut menunjukkan bahwa keberadaan industri di suatu daerah tidak harus berhenti pada kontribusi ekonomi. Perusahaan juga dapat mengambil bagian dalam menjawab persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Di bidang sosial lainnya, BAI tercatat menyalurkan bantuan kepada warga terdampak banjir, bantuan sarana pendidikan, bantuan kebutuhan pokok hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.
Perusahaan juga mengembangkan program TJSL dalam bidang kesehatan, pendidikan dan vokasi, budaya dan infrastruktur, serta aksi kepedulian masyarakat.
Lebih jauh, kehadiran BAI memiliki arti strategis bagi industri aluminium nasional.
Hilirisasi bauksit menjadi alumina membuat rantai pasok mineral Indonesia menjadi lebih terintegrasi. BAI menjadi bagian dari mata rantai yang menghubungkan sumber daya bauksit dengan kebutuhan industri aluminium nasional.
Pada 2025, BAI mencatat produksi alumina mencapai sekitar 294.795,665 metrik ton melalui 16 kali trial shipment untuk pasar domestik maupun ekspor, menurut Direktur Utama PT BAI Darwin Saleh Siregar.
Untuk 2026, manajemen BAI menargetkan proyek SGAR dapat mencapai produksi 1 juta ton, dengan tetap menekankan aspek keselamatan kerja, tata kelola perusahaan, perlindungan lingkungan, pengembangan masyarakat dan pengembangan sumber daya manusia.
Target tersebut menempatkan Mempawah bukan hanya sebagai lokasi proyek industri, tetapi sebagai salah satu titik penting dalam perjalanan hilirisasi mineral Indonesia.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah proyek besar bukan hanya seberapa besar investasi yang masuk atau seberapa tinggi kapasitas produksinya.
Keberhasilan juga dapat dilihat dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat di sekitarnya.
Ketika warga lokal mendapatkan pekerjaan, anak-anak memperoleh fasilitas pendidikan yang lebih baik, masyarakat mendapatkan pelatihan keterampilan, UMKM memiliki peluang berkembang, dan program kesehatan menyentuh keluarga di sekitar perusahaan, maka hilirisasi mulai memiliki wajah yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Itulah tantangan sekaligus harapan dari kehadiran PT Borneo Alumina Indonesia di Mempawah.
Bauksit yang keluar dari bumi Kalimantan Barat tidak lagi berhenti sebagai bahan mentah. Ia diproses menjadi alumina, masuk ke rantai industri nasional, sekaligus membawa cerita lain: tentang pekerjaan, keterampilan, pendidikan, kesehatan dan harapan baru bagi masyarakat.
Dengan kata lain, hilirisasi bukan hanya tentang mengubah mineral menjadi produk bernilai tambah, tetapi juga bagaimana nilai tambah tersebut ikut tumbuh bersama masyarakat.
Penulis : Apri

Posting Komentar