HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Indonesia Perkuat Kedaulatan Industri Lewat Mega Proyek Hilirisasi Aluminium di Mempawah Kalbar

Proses groundbreaking proyek hilirasi fase 1 yang dibangun Holding BUMN Industri Pertambangan MIND ID di lokasi SGAR Mempawah, Kalimantan Barat. Foto Diskominfo Mempawah

JURNAL GALAHERANG - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara resmi melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek hilirisasi industri alumina dan aluminium di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Jumat, 6 Februari 2026.

Proyek hilirisasi tersebut meliputi fasilitas pengolahan dan pemurnian aluminium atau smelter aluminium fase 1, dan smelter grade alumina refinery (SGAR) atau pengolahan bauksit menjadi alumina fase II. 

Proyek tersebut digarap oleh Holding BUMN Industri Pertambangan MIND ID yaitu PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum dengan PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) melalui PT Borneo Alumina Indonesia, dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk penyediaan listrik. 

Peletakan batu pertama ini menjadi penanda penting penguatan rantai pasok industri aluminium nasional dari hulu hingga hilir.

Groundbreaking proyek hilirisasi ini dilakukan bersamaan dengan lima proyek hilirisasi strategis lainnya yang dikawal Danantara. 

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin yang memberikan laporan langsung dari lokasi proyek kepada CEO Danantara, Rosan Roeslani secara daring dari Jakarta, menyebut proyek ini sebagai momentum besar dalam perjalanan industrialisasi Indonesia.

Menurutnya, pembangunan proyek ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan simbol pilihan strategis bangsa untuk keluar dari ketergantungan ekspor bahan mentah.

“Hari ini bukan hanya soal groundbreaking, tetapi tonggak pembangunan nasional. Indonesia memilih menjadi bangsa berdaulat, bukan sekadar pengekspor bahan mentah, melainkan produsen bernilai tambah melalui hilirisasi,” ujar Maroef. 

Baca juga : Grup MIND ID Konsisten Jaga Lingkungan di Wilayah Operasional Perusahaan

Maroef menegaskan, hilirisasi yang dijalankan MIND ID merupakan kebijakan fundamental jangka panjang. “Ini bukan kebijakan reaktif. Ini fondasi pembangunan industri untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional dan menciptakan lapangan kerja,” katanya.

Fasilitas pengolahan yang dikembangkan MIND ID di Mempawah mencakup smelter aluminium baru berkapasitas 600.000 metrik ton aluminium per tahun, serta Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II dengan kapasitas 1 juta metrik ton alumina per tahun. Kedua fasilitas tersebut dirancang sebagai satu kesatuan industri aluminium terpadu dari hulu hingga hilir.

Untuk mendukung operasional tersebut, fasilitas ini akan menyerap sekitar 6 juta ton bijih bauksit per tahun yang dipasok Antam dari wilayah izin usaha tambang PT Antam di Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Landak.

Sementara itu, kebutuhan energi listrik proyek akan dipasok oleh PT Bukit Asam melalui pembangkit berbasis batu bara.

“Aluminium adalah material abad ke-21. Perannya sangat krusial di sektor transportasi, energi baru terbarukan, hingga teknologi hijau. Tanpa hilirisasi, kita hanya akan menjadi pasar. Dengan hilirisasi, bauksit Kalbar diproses dan diubah menjadi produk bernilai tinggi di dalam negeri,” jelas Maroef.

Maroef Sjamsoeddin menegaskan proyek ini menjadi bagian penting dalam mendukung program ketahanan mineral nasional sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku strategis bagi industri manufaktur dalam negeri. 

“Proyek ini ditujukan untuk memperkuat rantai nilai industri nasional dan memastikan pasokan bahan baku aluminium tersedia secara berkelanjutan di dalam negeri,” ujarnya. 

Melalui proyek strategis nasional tersebut, imbuh Maroef, MIND ID menargetkan peningkatan nilai tambah hingga 70 kali lipat mulai dari bauksit, alumina, hingga aluminium. 

Terlebih, secara ekonomi, nilai bauksit mentah yang berada di kisaran US$40 per metrik ton dapat meningkat menjadi sekitar US$400 per metrik ton setelah diolah menjadi alumina, dan melonjak signifikan hingga US$2.800–US$3.000 per metrik ton ketika diproses menjadi aluminium.

Maroef menambahkan, keberadaan fasilitas ini akan memperkuat kapasitas produksi aluminium domestik sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor aluminium, yang selama ini masih cukup besar untuk memenuhi kebutuhan industri nasional, terutama sektor transportasi, konstruksi, energi, dan manufaktur berbasis teknologi.

Berdasarkan paparannya, proyek tersebut diproyeksikan akan mewujudkan penciptaan lapangan kerja bagi sekitar 65 ribu tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung.

Dalam kesempatan yang sama, Maroef mengungkapkan rencana ekspansi besar Inalum. Kapasitas produksi aluminium nasional ditargetkan meningkat dari 275.000 ton per tahun menjadi 900.000 ton per tahun, termasuk melalui pengembangan smelter baru di Mempawah.

“Dengan tambahan ini, Indonesia akan memiliki basis industri aluminium yang kuat dan terintegrasi, dari bahan baku, energi, infrastruktur, hingga pengembangan sumber daya manusia,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Maroef menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung proyek strategis tersebut. “Semoga apa yang kita rencanakan ini mendapat keberkahan dan benar-benar membawa manfaat besar bagi bangsa dan daerah,” pungkasnya.

Penulis : Apri