Puluhan Siswa-Guru Ikuti Bimtek Pantun dan Tundang di Rumah Budaya Melayu
![]() |
| Peserta dan Narasumber Bimtek Pantun dan Tundang di Rumah Budaya Melayu Mempawah. Foto Istimewa |
JURNAL GALAHERANG - Dinas Pendidikan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disdikporapar) Kabupaten Mempawah kembali menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) di bidang seni dan budaya.
Setelah menggelar Bimtek Pantomim dan Tari, kali ini giliran Bimtek Pantun dan Tundang yang dilaksanakan pada 9–10 Desember 2025, di Rumah Budaya Melayu (RBM) Mempawah.
Kegiatan yang diikuti puluhan siswa dan guru SD-SMP se-Kabupaten Mempawah ini bekerjasama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya, serta Bahasa Indonesia.
Bimtek dibuka resmi oleh Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikporapar Mempawah, Riska Tania, yang mewakili kepala dinas, pada Selasa, 9 Desember 2025.
Dalam sambutannya, ia menegaskan pantun dan tundang merupakan kekayaan budaya lisan yang memiliki nilai estetika, etika, dan pendidikan yang tinggi.
“Pantun bukan hanya karya sastra yang indah, tetapi juga sarana penyampaian pesan moral, kritik sosial, dan ungkapan rasa dalam bahasa yang santun. Demikian pula tundang, yang merupakan warisan budaya daerah yang perlu kita pelihara dan kembangkan sebagai identitas dan kearifan lokal,” ujarnya.
Baca juga : Kadisdikporapar Buka Bimtek Pantomim dan Tari, Dorong Pengembangan Talenta Seni Mempawah
Riska juga mengajak peserta dan para pendidik untuk melihat budaya bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga bagian dari masa depan.
Menurutnya, pantun dan tundang menyimpan nilai falsafah kehidupan, kesopanan, nasihat, serta humor yang menjadi ciri khas budaya Melayu.
Ia menekankan bimtek ini menjadi momentum penting untuk memperkuat upaya pelestarian budaya daerah sekaligus melahirkan generasi kreatif yang mampu menciptakan pantun dan tundang dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
“Melalui pelatihan ini, kita berharap kompetensi para pendidik dan peserta didik semakin kuat, sehingga nilai-nilai budaya dapat terintegrasi dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Di era digital saat ini, lanjutnya, budaya lisan kerap tergerus oleh perkembangan zaman. Karena itu, ia mendorong adanya inovasi dan strategi pembelajaran yang lebih menarik agar pantun dan tundang tetap dekat dengan generasi muda.
Disdikporapar, kata Riska, berkomitmen memberikan ruang bagi pengembangan budaya lokal melalui kolaborasi dengan MGMP Seni Budaya dan Bahasa Indonesia, sekaligus mempersiapkan talenta-talenta muda untuk ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tahun 2026.
“Kami ingin tradisi yang kita miliki bukan hanya didokumentasikan, tetapi dihidupkan, dipraktikkan, dan diwariskan secara aktif,” tegasnya.
Ia menutup sambutannya dengan memberikan apresiasi kepada panitia dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, termasuk para narasumber berpengalaman yakni Muhammad Zulkarnain, Susilawati, Muhammad Sabirin dan Siti Syuhaidah.
Adapun materi yang disampaikan pada sesi pertama meliputi dasar pantun, praktik menulis pantun, presentasi pantun peserta, lomba mini pantun, serta evaluasi dan simulasi.
Kemudian sesi kedua meliputi pengenalan tundang, struktur tundang, irama tundang, contoh tundang, menulis teks tundang, latihan membawakan tundang, dan penampilan tundang peserta.
Penulis : Apri
